Bagaimana Merancang Penelitian yang Siap Publikasi?

Written by iro fk on . Posted in Info CME, news

_MG_8672 _MG_8671

Yogyakarta – Dr. Gerard Pals, Kepala Unit  Penelitian the Center for Connective Tissue Research Vrije Universiteit, Amsterdam hari Jumat (19/12) memberikan kuliah tamu CME mengenai genetika molekuler di Ruang Kuliah S3 Gedung Pascasarjana Fakultas Kedokteran UGM. Beberapa topik dengan subyek-subyek terkini disampaikan di hadapan mahasiswa S2 dan S3 serta staf dosen FK UGM, seperti Single Nucleotide Polymorphisms (SNP’s) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengannya, Genome Wide Association Study (GWAS), linkage disequilibrium, interpertasi mutasi (mutasi patogenik, unclassified variant). Dr. Gerard dengan minat utama dan kepakaran pada bidang uji genetik terkait gangguan jaringan ikat yang diturunkan seperti Marfan syndrome, Aortic aneurysms, Osteogenesis imperfecta, Ehlers-Danlos syndrome juga menyampaikan materi  presentasi tentang strategi merancang penelitian yang siap publikasi (From research to publication, about how to structure your research towards publication, before you jump into it).        \sari

Selengkapnya materi kuliah dapat diunduh di sini.

7th Board Meeting and Scientific Forum ICE-EBM

Written by iro fk on . Posted in Info CME, news

_MG_7429

Yogyakarta – Fakultas Kedokteran UGM dan RSUP Dr. Sardjito melalui Pusat CE&BU FK UGM/RSUP Dr. Sardjito menjadi tuan rumah 7th Board Meeting and Scientific Forum Indonesian Clinical Epidemiology and Evidence Based Medicine (ICE-EBM) Network. Serangkaian agenda yang digelar mulai dari Pre-Meeting Workshops (18-21 November), Cluster Board Meeting (22 November) hingga Board Meeting and Scientific Forum (22-23 November) berlangsung di Gedung KPTU FK UGM lantai 2 dan Gedung Diklat RSUP Dr. Sardjito lantai 4. Pre-Meeting Workshop meliputi Cochrane Systematic Review dan Evidence Based-Clinical Practice Guideline dengan menghadirkan pakar pengampu dari Australasian Cochrane Center-Indonesian Cochrane Network. Kemudian pada Cluster Board Meeting, ada 6 cluster yang berpartisipasi aktif dalam pertemuan, yaitu sebagai berikut:

  • Cluster EBM – Australasian Cochrane Center (ACC)
  • Cluster Maternal-Perinatal
  • Cluster Communicable Disease-WHO SEARO
  • Cluster Non Communicable Disease
  • Cluster HTA-Health Policy
  • Cluster Health Informatics System (HIS) – Collaborator Global Fund

sertijab sekretariat ICE-EBMMenteri Kesehatan RI yang sedianya menjadi Keynote Speaker dalam 7th Board Meeting and Scientific Forum ICE-EBM Network diwakili oleh Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (LITBANGKES). Topik-topik bahasan dalam scientific forum menampilkan isu-isu terkini seperti Cochrane, Ethics dan jaminan kesehatan dengan pembicara dari Cochrane Australasian Center, Litbangkes Kementerian Kesehatan, BPJS , Fakultas Farmasi dan FK UGM.  Pelaksanaan 7th Board Meeting and Scientific Forum ICE-EBM Network tahun 2014 bersamaan dengan serah terima perpindahan Sekretariat ICE-EBM dari FK UI-RSCM dengan Ketua Prof. Dr. dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp.A(K)) ke FK UGM/RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan Ketua Prof.dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc. PhD.  [sumber: Sekretariat CE&BU]

A Two Day Symposium on Genomics and beyond

Written by iro fk on . Posted in Info CME, news

IMG_5372

Yogyakarta – Indonesia dan Prancis memiliki sejarah panjang kerjasama pendidikan tinggi di bidang ilmiah, dan di Yogyakarta kerjasama kedua negara terjalin melalui jejaring institusi UGM dan Institut Francais Indonesia (IFI). Institut Français adalah perpanjangan tangan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta untuk memfasilitasi berbagai program kerja sama Indonesia-Prancis. Mengutip penjelasan Ibu Christine Moerman, Direktur IFI Yogyakarta, IFI berkecimpung dalam bidang kebudayaan; linguistik dan kerja sama ilmiah universitas. Program kerja samanya meliputi promosi pendidikan tinggi Prancis, program beasiswa antara lain Double Degree Indonesia Prancis (DDIP) dan Indo-Franco Joint Working Group, kerja sama universitas, kerja sama penelitian, join seminar-seminar tematik. Jejaring Indonesia-Prancis berhasil membangun sistem kolaborasi akademik baik dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia, program mobilitas pertukaran mahasiswa dan staf serta join riset. Sistem ini diperkuat dengan adanya CampusFrance di  IFI yang bertugas untuk mempromosikan pendidikan tinggi Prancis di luar negeri dan menawarkan kepada siswa bimbingan untuk sukses menempuh pendidikan tinggi di Prancis.

Fakultas Kedokteran UGM berkesempatan menjadi tuan rumah “A Two Day Symposium on Genomic and beyond” tanggal 5-6 November 2014 sebagai bentuk kerja sama ilmiah Indonesia-Prancis dalam program pengembangan kapasitas sumber daya manusia.  Simposium dua hari ini menjembatani mahasiswa dan klinisi untuk lebih memahami Biologi Molekuler, sebagai bidang ilmu yang berkembang dari genetika molekuler, karena banyak penyakit dengan tingkat insidensi tinggi di Indonesia (malaria, HIV/AIDS, kanker, jantung koroner) memiliki aspek molekuler. Pemahaman aspek molekuler sangat membantu klinisi dalam penentuan diagnosis dan terapi yang pada akhirnya menjadi kontribusi penanggulangan masalah-masalah kesehatan nasional. Simposium yang didukung Institut Français Indonesia menghadirkan narasumber dari Université de Poitiers, University Montpellier 2, Université de Rennes, dan University Lille Prancis. Sebanyak 130-an peserta dari UGM dan berbagai universitas di Indonesia lainnya (USU, UNHAS, YARSI, UNPAD, UNDIP, UNY, UMY) mengikuti simposium yang digelar oleh Program Pascasarjana S3 dan S2 Ilmu Kedokteran Dasar FK UGM.

Profesor Sofia Mubarika, salah satu penggagas simposium genomik menyampaikan dalam konferensi pers Kamis (6/11) bahwa saat ini pengobatan semakin bersifat individual berbasis genetik sehingga sangat penting bagi klinisi mendalami genomik. Dengan pendekatan individu (personalized medicine) diharapkan pengobatan penyakit degeneratif akan lebih tepat sasaran dengan minimal efek samping, ujarnya. Sebagai contoh penyakit kanker, tidak bisa diberi pengobatan yang sama untuk semua penderita kanker karena responnya bisa berbeda-beda. Apa lagi resistensi terhadap obat juga semakin tinggi. Dengan berbasis pada genomik, ujarnya, diharapkan akan diketahui  risiko suatu penyakit terkait pengaruh gaya hidup penderita seperti pola makan atau pola aktivitas sehari-hari.

Pentingnya pemahaman genomik juga ditegaskan oleh Vice President Universidé de Poiters Prancis Profesor Gérard Mauco yang berhasi menggandeng pakar genomics, epigenetics, proteomics dan molekuler dari institusi Prancis yaitu Profesor Roger Frutos, Profesor Veronique David, Profesor Alain Kitziz dan Dr. Stan Tomavo. “Pengobatan penyakit molekuler sebaiknya sesuai dengan jenis dan sumber penyakitnya untuk kemudian ditangani lewat analisis molekuler sehingga pengobatannya menjadi tepat dan menyembuhkan,” ujarnya.     \sari

Materi dan tautan video simposium dapat diunduh di sini.

Artikel terkait:
Berita UGM
Sinar Harapan
Suara Merdeka
Okezone

How I See the Future of Medical Genetics

Written by iro fk on . Posted in Info CME, news

Yogyakarta – Genetika memiliki peran penting bagi ilmu pengetahuan dasar dan aplikasi penting untuk ilmu kedokteran klinik; ilmu kedokteran masyarakat serta penelitian kedokteran karenanya sangat jelas genetika klinik dalam dunia kedokteran menunjang diagnosa; upaya terapi dan pengelolaan kelainan-kelainan herediter.  Hampir semua penyakit dan kondisi manusia dikaitkan dengan DNA sehingga pemahaman dan penelitian atas materi genetika manusia (DNA) merupakan suatu keniscayaan. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM menghadirkan Visiting Professor Robert Hofstra, PhD -Ketua Departemen Genetika Klinis Erasmus MC Rotterdam untuk memberikan update genetika klinik melalui serangkaian kuliah tamu/CME. Selain memberikan kuliah kepada mahasiswa PPDS Bagian Anak dan Bedah Anak di bagian IKA, Prof Hofstra juga memberikan kuliah tamu/CME  “DNA Diagnostics & NGS and How I See the Future of Medical Genetics” bagi mahasiswa Prodi S2 IKD & Biomedis pada hari Rabu (23/9) di Gedung Pascasarjana FK UGM yang dilanjutkan dengan diskusi penelitian terkait Ilmu Genetika Manusia.